Trip kali ini bisa dibilang petualangan, karena kami harus menggunakan kendaraan khusus dan belum pernah kesini sebelumnya. Tapi aspek budayanya begitu kental karena lokasi yang kami tuju adalah sebuah ibukota masyarakat traditional yang menamakan dirinya Kasepuhan Banten Kidul.
Kasepuhan Banten Kidul adalah kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda yang tinggal di sekitar Gunung Halimun terutama di wilayah Kabupaten Sukabumi-Jawa Barat sebelah barat hingga ke Kabupaten Lebak-Banten dan ke utara hingga ke Kabupaten Bogor- Jawa Barat. Kasepuhan (Sd.Sepuh, tua) menunjuk pada adat istiadat warisan leluhur yang masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat suatu wilayah tertentu.
Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul melingkup beberapa desa tradisional dan setengah tradisional, yang masih mengakui kepemimpinan adat setempat. Terdapat beberapa Kasepuhan di antaranya adalah Kasepuhan Ciptagelar, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, serta Kasepuhan Cibedug.
Kasepuhan Banten Kidul kini telah berumur 650 (1368 – 2018), dengan pusat pemerintahan adatnya sekarang berada di Kampung Gede Ciptagelar, Cikarancang, Cicemet, Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi. Saat ini pemimpin adat (Sepuh Girang) adalah Abah Ugi, yang memulai memegang tampuk kepemimpinan sebagai Abah ke XI pada tahun 2007 di usia 23 tahun, sepeninggalan ayahandanya yang kita kenal dengan Abah Anom. Sepuh Girang dalam aktivitas pemerintahan adat sehari-hari dibantu oleh para pejabat adat yang disebut baris kolot (Sd. kolot, orang tua; kokolot, tetua).
Sejarah Kampung adat Ciptagelar sendiri ditarik ke akhir tahun 2000 yang mana Abah Anom (Alm. Encup Sucipto) sebagai Sepuh Girang menerima wangsit dari leluhur untuk pindah dari kampung Ciptarasa ke Ciptagelar. Ciptagelar artinya pasrah menerima perpindahan tersebut. Wangsit ini diterima oleh Alm. Abah Anom setelah melalui proses ritual beliau yang hasilnya tidak boleh tidak mesti dilakukan. Oleh karena itulah perpindahan kampung adat pada bulan Juli 2001 yang berjarak belasan kilometer melintasi hutan rimba merupakan wujud kesetiaan dan kepatuhan kepada leluhur. Kasepuhan Ciptagelar sendiri melingkupi dua Kasepuhan yang lain, yakni Kasepuhan Ciptamulya dan Kasepuhan Sirnaresmi. Secara total ada 568 kampung yang tergabung dalam Kasepuhan Adat Ciptagelar.
Letak geografis Kampung Ciptagelar berada di atas ketinggian rata-rata 1050 meter diatas permukaan laut. Udaranya sejuk cenderung dingin dengan suhu antara 20° C sampai 26° C dan suhu rata-rata setiap tahun sekitar 25° C. Kampung Ciptagelar dikelilingi gunung-gunung, yaitu Gunung Surandil, Gunung Karancang, dan Gunung Kendeng.
Salah satu acara adat tahunan Kasepuhan yang selalu menarik minat masyarakat adalah upacara "Seren Taun"yang sesungguhnya adalah pernyataan syukur warga Kasepuhan atas keberhasilan panen padi. Padi bagi komunitas adat ini adalah lambang kehidupan sehingga lumbung yang dalam bahasa setempat disebut "Leuit" bisa dibilang sebagai icon dari Kasepuhan Ciptagelar
Dengan mengacu pada konsep kosmos, padi menjadi pusat kehidupan masyarakat dimana seluruh sendi-sendi kehidupan adat didasarkan kepada kalender siklus padi. Dari padi ditanam hingga padi dipanen, maka terdapat berbagai macam ritual yang dilakukan dan Seren Taun sendiri adalah ritual terakhir dari proses tersebut, sebagai wujud syukur terhadap anugerah alam. Karena padi adalah pasangan hidup manusia, maka sudah menjadi kewajiban manusia untuk terus merawatnya, Dengan filosofi ini, maka masyarakat kasepuhan pantang untuk memperjualbelikan padi.
Berbeda dengan pola pertanian intensifikasi, maka siklus panen padi di Kasepuhan hanya dilakukan satu kali setahunnya selama 5-6 bulan untuk selebihnya di istirahatkan. Masyarakat adat percaya bahwa tanah perlu dipulihkan, dikembalikan untuk mencapai keseimbangan dan keselarasan alam. Lahan pertanian padi tidak boleh menggunakan kimia, kecuali menggunakan bahan yang tersedia di alam. Dengan pelbagai kearifan lokal ini, maka di Ciptagelar tidak pernah terjadi serangan hama padi seperti sering terjadi di tempat lain.
Kasepuhan Ciptagelar memiliki jenis padi hingga mencapai 120 jenis. Ini adalah "genetic bank" yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan. Walaupun hanya sekali panen dalam setahun, kasepuhan memiliki 8.000 lumbung padi. Ribuan lumbung tersebut merupakan stok bagi 30.000 warga hingga 3 tahun kedepan.
Satu lagi kearifan lokal adat masyarakat tepi hutan ini adalah dilarang menangkap burung karena burung adalah bagian dari elemen keseimbangan alam. Lagian suara kicau burung sepanjang hari sudah tersaji disekitar rumah.
Untuk mencapai ke Kampung Gede Ciptagelar bisa ditempuh via Pelabuhan Ratu Sukabumi atau via Bogor atau via Lebak. Tentunya kendaraan yang digunakan harus mampu mengantisipasi permukaan jalan yang tidak rata dan kontur medan pegunungan dengan tanjakan dan turunan yang tajam lagi berkelok-kelok. Kebetulan Kali pertama ke sini diajak oleh komunitas Jalan-Jalan adventure 4x4 sehingga bisa lancar perjalanan pergi & pulangnya.
Seru & mencerahkan.
Disusun dari beberapa sumber referensi